Sunday, March 29, 2020

Cerita Rakyat Sanggau - Putri Daranante - Part 2

sambungan....

Konon dalam perjalanan mencari Baboi Cingak, mereka menggunakan anjing. Setiap anjing akan dilepas ketika menepi ditepi pantai (tepi sungai) yang dianggap memiliki jejak sang lelaki yang sedang mereka cari. Adapun pantai-pantai yang mereka singgahi diberi nama Bahta, Sedua, Sami, Bonti dan Sedae.

Dengan dipandu dukun (ahli nujum), rombongan Dara Nante berbelok ke arah Sungai Entabai. Benar, ternyata Baboi Cingak yang hendak mereka cari berada di Kampung Tampun Juah. Mereka pun bertanya kepada seorang pria tua yang hendak pergi ke kebun. "Apakah kampun masih jauh dari sini,?" tanya rombongan Dara Nante kepada orang tua tersebut. "Masih jauh," jawab orang tua itu. "Kalau demikian, bolehkah rombongan kami menginap dan bermalam dirumah kakek.?" kata rombongan Dara Nante. "Boleh" jawab kakek singkat. Lalu bermalamlah mereka.

Keesokan harinya, rombongan Dara Nante berangkat mencari kampung, Sesampainya di kampung itu, mereka pun mencari ketua kampung dan menceritakan maksud kedatangan rombongan Dara Nante yang hendak mencari seorang laki-laki pemilik buah mentimun. Pada saat itu, ketua kampung mengumpulkan masyarakatnya, bahwa Dara Nante hendak mengadakan sayembara untuk mencari Ayah dari anak Dara Nante yang masih kecil itu.

Dalam sayembara tersebut. diceritakan kembali bahwa anak Dara Nante nantinya akan membawa tiga buah ruas tebu dan mencari siapa yang akan mengupas tebu tersebut. Jika ada seorang laki-laki yang dimintai tolong untuk mengupasnya, maka dia adalah Ayah dari anak itu. Karena paras cantik Dara Nante, konon banyak rakyat terutama kalangan pemuda yang mengikuti sayembara itu. Tetapi, tidak ada seorang pun yang diminta oleh anak kecil untuk mengupas tebu tersebut.

Ada salah seorang penduduk mengatakan bahwa ada seorang pria tua yang tidak hadir ditempat sayembara, orang tua tersebut diasingkan oleh kaum keluarganya karena ia mengidap penyakit kulit. Pertunjukkan sayembara pun diulang kembali dan pria tua tersebut dihadirkan untuk mengikuti sayembara itu. Maka, dengan serta merta anak kecil Dara Nante menuju pria tua untuk diminta mengupas tebunya. Pada mulanya, berat hati Dara Nante menerima fakta tersebut. Tetapi mengingat janji sejak awal, Dara Nante tetap harus menerima seorang Ayah dari anak yang dikandungnya.

Dengan bertemunya Dara Nante dan Baboi Cingak, selesailah masalah fitnah yang ditanggungnya selama ini. Setelah beberapa hari tinggal di kampung Baboi Cingak, maka Dara Nante membawa pulang Baboi Cingak ke kampung halamannya. Mereka menelusuri Sungai Sekayam ke arah hilir kembali menggunakan bidar dan sempat singgah bermalam di beberapa tempat. Salah satu diantaranya di daerah Mengkiang. Ketika Dara Nante dan suaminya sedang mandi di sungai. Saat Baboi Cingak berendam di sungai, konon ikan "korak" memakan kulit ditubuh Baboi Cingak, seketika penyakit kulit Baboi Cingak sembuh. Tubuh baboi yang tampak tua berubah menjadi kekar, muda dan tampan. Alangkah gembiranya  Baboi Cingak dan Dara Nante menyaksikan kejadian tersebut. Karena cerita ini, konon hingga sekarang jika ada yang mengaku dirinya keturunan Baboi Cingak, maka dilarang memakan ikan "korak/kerak".

Kemudian rombongan Dara Nante dan suaminya melanjutkan perjalanan hingga ke satu tempat yang disebut Kantu' (Sanggau).Di daerah ini, Dara Nante dan Baboi Cingak menemui seorang yang bernama Dak Kudak. Dalam pertemuan itu, Dara Nante hendak mengamanahkan kepemimpinan kepada Dak Kudak untuk memerintah dan mengatur wilayah Sanggau. Tetapi sayang sekali, Dak Kudak tidak mampu melaksanakan amanah dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Terlalu banyak permasalahan menimpa kepemimpinannya yang tidak putus-putusnya. Akhirnya, Dak Kudak menjadi bingung dan tidak sanggup mengatur jalannya pemerintahan. Suasana pemerintahan bertambah kacau, tidak menentu dan rakyat pun tidak teratur. 

Rakyat memperhatikan Dak Kudak tidak ada ketenangan dalam hidupnya. Menerima tamu sebagai adat penyajian pinangan yang kerap kali berlaku pada masa itu, pun tidak dapat dilakukannya. Ketika itu, urusan adat pinang-meminang harus ditangani Dak Kudak, tetapi semua pekerjaan tersebut tidak dapat dilaksanakannya dengan baik.

Karena tidak sanggup dengan permasalahan yang sering terjadi, Dak Kudak memutuskan untuk meninggalkan Sanggau dan melepas amanah yang diberikan oleh Dara Nante. Suatu malam, ia beserta kerabatnya pergi berangkat menuju daerah Semboja. Secara etnografi dan riwayat cerita asalnya, perkataan "Semboja" berasal dari kata "Abu Koja" lari berjalan kaki waktu malam hari. Merujuk data oral dan cerita-cerita rakyat Sanggau, arwah Dak Kudak menjadi orang kebenaran. Konon, kubur Dak kudak diyakini berada di daerah Sengarong dekat kampung Bunut, Sanggau saat ini.

Dikemudian hari, Dara Nante dan Baboi Cingak meneruskan kembali perjalanannya menuju kampung halamannya. Setelah menempuh dalam waktu yang cukup lama, Dara Nante kembali kepangkuan orang tuanya. Konon, setibanya dikampung halamannya di daerah Labai Lawai, Dara Nante disambut meriah oleh rakyatnya.

Suatu waktu, sang Raja (ayah Dara Nante) sangat heran mengapa anak menantunya suka mandi [ada malam hari. Untuk mengetahui ada apa dibalik rahasia itu, maka Raja menyuruh salah seorang pembantu kepercayaannya untuk menyelidiki hal itu. Setelah diselidiki, ternyata tampak jelas sekali bahwa Baboi Cingak adalah seorang pemuda yang tampan, kekar dan gagah perkasa. Bertambah yakin dan gembira hati sang Raja mendengar kesaksian pembantunya itu (sumber: Gusti Arman, Ai Ngah Aem, Abang Sulaiman, dan Ade Hanifah). Wallahu'alam - Tamat.

Cerita ini ditulis kembali dari sebuah buku yang berjudul Sejarah Kesultanan Melayu Sanggau yang ditulis oleh Dr. Abang Izhar Ay, M.Sc. Buku tersebut dicetak pada bulan Oktober 2016.

No comments:

Post a Comment