Legenda Dara Nante
Pada zaman dahulu kala, seorang putri datang dari kerajaan Hindu Matan, Bapurang, Ketapang. Nama putri legendaris itu adalah putri Dara Nante, yang saat itu tengah mengandung seorang bayi tanpa suami. Konon, disebabkan memakan sebuah mentimun yang hanyut terbawa air Sungai Sekayam dan Sungai Kapuas.
Suatu hari, Dara Nante bersama para dayang (pembantunya) turun mandi ke sungai. Ketika sedang asik mandi dan bermain di sungai bersama para dayangnya, tiba-tiba terlihat sebuah mentimun yang hanyut terbawa aliran air sungai. Tetapi anehnya mentimun itu berputar-putar di air. Salah seorang dayang berkata "siapa yang dapat mengambil buah mentimun itu, maka akan menjadi miliknya sendiri,". Kemudian mereka mulailah berlomba untuk mendapatkan buah mentimun, tetapi para dayang tidak ada yang berhasil mendapatkan buah mentimun tersebut. Kemudian tiba giliran Dara Nante yang hendak mengambil, timun tersebut mendekatinya tiba-tiba. Dara Nante lah yang berhak memiliki mentimun tersebut dan memakannya.
Beberapa bulan setelah memakan buah mentimun tersebut, Dara Nante tidak datang bulan. Ini artinya Dara Nante menunjukkan ciri-ciri sebagai seorang gadis yang mengandung tanpa seorang laki-laki yang menyentuhnya. Tidak lama kemudian, tersebarlah berita ke seluruh penduduk bahwa Dara Nante mengandung tanpa seorang suami. Timbul pula tuduhan-tuduhan dari masyarakat hingga membuat sang Raja murka mendengarnya.
Raja terus memikirkan putrinya, siapakan lelaki yang menghamili putrinya itu. Setelah dipelajari oleh sang Raja. Ternyata keanehan terjadi sejak Dara Nante mandi bersama dayang-dayangnya, kemudian memakan buah mentimun yang hanyut. Setelah memakan buah mentimun itulah kemudian ia mengandung. Raja pun mengumpulkan para pembesar dan pembantu-pembantunya untuk mencari jalan keluar.Para pembesar mengusulkan agar mengambil khidmat dukun alias bomoh (ahli nujum) yang handal.
Beberapa bulan setelah memakan buah mentimun tersebut, Dara Nante tidak datang bulan. Ini artinya Dara Nante menunjukkan ciri-ciri sebagai seorang gadis yang mengandung tanpa seorang laki-laki yang menyentuhnya. Tidak lama kemudian, tersebarlah berita ke seluruh penduduk bahwa Dara Nante mengandung tanpa seorang suami. Timbul pula tuduhan-tuduhan dari masyarakat hingga membuat sang Raja murka mendengarnya.
Raja terus memikirkan putrinya, siapakan lelaki yang menghamili putrinya itu. Setelah dipelajari oleh sang Raja. Ternyata keanehan terjadi sejak Dara Nante mandi bersama dayang-dayangnya, kemudian memakan buah mentimun yang hanyut. Setelah memakan buah mentimun itulah kemudian ia mengandung. Raja pun mengumpulkan para pembesar dan pembantu-pembantunya untuk mencari jalan keluar.Para pembesar mengusulkan agar mengambil khidmat dukun alias bomoh (ahli nujum) yang handal.
Hasil perenungan ahli nujum mengatakan bahwa Dara Nante mengandung tanpa suami disebabkan terkena sihir sewaktu memakan buah mentimun yang kala itu hanyut di sungai. Para bomoh juga mengatakan bahwa pemilik buah mentimun itu berada ditempat yang jauh di hulu sungai. Sang Raja pun memerintahkan para pembantunya agar mencari orang tersebut. Bekal pun disiapkan para pembantunya karena harus menempuh perjalanan yang sulit dan panjang.Perjalanan itu akan dimulai pada saat bayi dalam kandungan itu dilahirkan Dara Nante telah menjadi anak-anak.
Setelah bayi Dara Nante lahir dan tumbuh menjadi anak-anak, berangkatlah rombongan Dara Nante menggunakan bidar (dedaup) menuju ke arah hulu menelusuri Sungai Kapuas untuk mencari asal buah mentimun itu berada. Orang yang dicari tersebut adalah Baboi Cingak. Merujuk bahasa lokal Dayak Sekayam, perkataan "Baboi" bukan "Babai", secara tradisi etnografi, berarti orang yang sudah tua sekali. Perkataan "Baboi" bisa juga diartikan sebagai "kakek". Sedangkan perkataan "Cingak" artinya sisa-sisa makanan yang sangkut di gigi. Jadi, Baboi Cingak artinya seseorang yang tua sekali. Dalam bahasa Dayak Sekayam, orang tua lelaki yang sudah tua dipanggil dengan perkataan "Baboi, bukan "Babai".
Tibalah rombongan Dara Nante di muara Sungai Sekayam (antara Sentana dan Kantu'), terhalang sebuah pohon Bayam besar melintang dan menghalangi jalur sungai. Mereka kemudian mencoba memotong pohon besar tersebut tetapi tidak berhasil. Meskipun telah dilakukan berulang-ulang, tetap saja gagal. Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan lamanya mereka berusaha memotong tetapi tetap tidak berhasil.
Pada suatu malam, Dara Nante bermimpi mendapatkan petunjuk bagaimana menyelesaikan masalah itu. Di dalam mimpi, Dara Nante melihat pohon tersebut dapat terpotong oleh dirinya sendiri dengan menggunakan pisau perenda (pisau seraut) miliknya. Pada keesokan hari, Dara Nante melaksanakan apa yang dilihat dalam mimpinya semalam. Dengan pisau perenda milik Dara Nante yang juga dibantu beberapa orang pembantunya, pohon besar itupun berhasil dipotong. Alhasil, mereka bisa kembali melanjutkan perjalanan.
bersambung......
klik next
No comments:
Post a Comment