Wednesday, February 15, 2017

Cerita Rakyat Sanggau: Kembang Fatma

Kembang Fatma


Dahulu kala disebuah pedalaman Sanggau, yaitu disekitaran kecamatan Sekayam hiduplah beberapa kelompok yang selalu hidup rukun dan damai. Rumah-rumah dibangun dengan sangat sederhana. Hampir di setiap samping rumah ada kebun kecil yang ditanam sayur-sayuran oleh para ibu. Setiap pagi, ayah dan anak laki-lakinya ada yang pergi ke hutan mencari kayu bakar, memetik buah-buahan segar, dan berburu. Ada juga yang ke sawah menggarap padinya, serta ke sungai menjala dan memancing berbagai jenis ikan. Para ibu dan anak perempuan seperti biasa ada yang mencuci baju, menjemur pakaian, memetik beberapa sayur yang sudah siap panen untuk makan hari ini, memasak air dan menanak nasi. Dapur terkadang terpisah dengan rumah utama, letaknya dibelakang. Hal ini biasanya karena pada saat memasak para ibu menggunakan kayu bakar. Agar asap tak masuk ke dalam rumah, maka dapur pun diberi ruang terbuka sehingga asap langsung berhembus di luar rumahnya.

Hampir setiap hari seorang pemuda bertubuh sedang, tidak tinggi tapi tidak juga pendek. Matanya tajam dan jernih, rambutnya hitam pekat, genggamannya memegang jala ikan begitu erat. Seolah menandakan beberapa ikan besar terperangkap didalamnya. Sungai riuh dengan tenang, masih alami dan jernih. Tak jauh dari seorang pemuda itu, selalu ada seorang putri yang cantik sedang mencuci baju bersama teman-temannya, tertutup sopan dengan kain. Rambutnya hitam terurai lurus panjang tapi diikat, matanya sendu indah, bibirnya berwarna merah muda tipis. Sesekali pemuda itu meliriknya, ia pun membalas dengan senyum tersipu.

Karena sering melihat dan sesekali menyapa. Timbul lah rasa suka antara kedua insan tersebut. Pemuda itu kemudian menyatakan perasaannya kepada gadis yang manis itu. Dengan wajah yang memerah malu, gadis itu pun ternyata memiliki rasa yang sama. Mereka berdua memiliki keyakinan untuk menjaga dan meneruskan hubungannya.

Sehingga suatu hari datang lah pemuda itu ke rumah sang gadis hendak menyampaikan maksudnya kepada kedua orang tua gadis cantik tersebut. Pemuda tersebut dengan hati yang tulus serta keyakinan yang teguh ingin melamar putri yang cantik itu. Namun, tak disangka orang tua gadis itu menolak dan sangat tidak setuju jika putrinya dilamar dengan pemuda tersebut. Menurut cerita, orang tua gadis tak setuju lantaran pemuda dan keluarganya berasal dari kasta bawah pada masa itu.

Mengetahui orang tuanya tak menyetujui atas hubungan mereka, gadis itu pun berusaha membujuk rayu kedua orang tuanya, ia menegaskan bahwa cinta dan sayang tak mengenal kasta apapun. Berkali-kali gadis itu membujuk, orang tuanya pun tetap tak setuju.

Begitu besar dan tulus rasa cinta gadis tersebut terhadap pemuda yang gagah itu tak membuat surut ia untuk memperjuangkan cinta dihadapan orang tuanya. Terujar lah dari orang tua gadis kepada putrinya. "Apabila engkau masih menginginkan untuk terus berhubungan dengan pemuda itu, maka akan ku bunuh dia" berang orang tua gadis kepadanya. "Bunuh saja aku bersama dengannya, tapi aku minta satu hal. Jasad kami tanamlah pada satu kubur yang sama" ungkap gadis itu dengan terisak.

Orang tua gadis yang mendengar itu naik pitam, maka dibunuhlah pemuda dan putrinya itu. Hingga raga kedua insan tersebut tak bergerak, darah mengalir deras dari kedua tubuh yang lemah dan tak berdaya. Melihati itu, orang tuanya pun menyesal akan perbuatannya. Namun apa daya, penyesalan pun tak membuat kembali nyawa yang telah hilang.

Teringat pinta putrinya, orang tua gadis itu pun akhirnya dengan penyesalan yang mendalam menguburkan putri dan pemuda itu kedalam satu kuburan yang sama. Bertahun-tahun kemudian, konon tumbuhlah sebuah bunga cantik berwarna putih diatas kuburan mereka yang menebarkan aroma wangi. Tidak hanya tumbuh diatas kuburannya, bunga tersebut pun tumbuh disekitaran daerah tempat tinggalnya. Hingga bunga itu dinamakan dengan Kembang Fatma. Menurut cerita lain, ada yang mengatakan nama gadis tersebut adalah Fatma sehingga bunga itu dinamakan demikian.

Dulu kakek, nenek, serta orang tua khususnya di Kabupaten Sanggau mencari-cari bunga tersebut yang mudah ditemui didaerah Beduai, Sekayam, Balai Karangan, dan sekitarnya. Kabarnya bunga tersebut memiliki beberapa khasiat mulai dari manfaatnya dalam menyembuhkan penyakit hingga dapat membuat awet muda yang sering mengkonsumsinya.


Narasumber: M.Riva'i Napis (Ai Long Pai)

No comments:

Post a Comment