Thursday, March 6, 2025

Budara: Buletin Mingguan di Kabupaten Sanggau



Bahan bacaan lokal baru di Kabupaten Sanggau.

Edisi Perdana Maret 2025. Silahkan download gratis disini

Friday, January 7, 2022

Kisah Sanggau: Asal Usul Warga Tionghoa Di Kota Sanggau

 



Terdapat dua komunitas sosial masyarakat lokal yang terbesar di kota Sanggau, yaitu Dayak dan Melayu. Kemudian disusul Tionghoa. Awalnya saya hanya ingin mencari informasi berdirinya Pekong Tri Darma di kota Sanggau. Kalau bicara soal asal usul masyarakat Tionghoa di kota Sanggau, ada beberapa versi yang saya dengar langsung dari orang-orang tua yang sudah lama tinggal di wilayah Sanggau.

Versi pertama yang saya dengar ini langsung dari seorang kakek yang punya usaha toko Obat Herbal Makmur, lokasinya berada di depan Mesjid Al Ikhlas, tak jauh dari Pekong Tri Dharma. Waktu saya bertanya soal sejarah berdirinya Pekong di kota Sanggau, beliau langsung masuk ke dalam ruangan, mungkin kamarnya. Mengambil sebuah buku kecil, seperti buku saku dengan tulisan mandarin. Sejenak membuka-buka setiap lembar mencari satu halaman untuk menjawab pertanyaan tadi. "Tahun berapa Pekong dibangun?".

Menurut cerita turun temurun yang beliau dengar, dimulai kisah dari perang saudara yang terjadi di RRC. Ketika itu, banyak rakyat yang ingin keluar dari zona tak nyaman untuk menghindari penderitaan yang panjang dengan kapal-kapal melintasi berbagai pulau dan benua. Kala itu, pemerintahan dijalankan oleh Dinasti Manchu atau Dinasti Qing, yaitu dinasti terakhir yang berkuasa di Tiongkok.


Singkat cerita, sisa-sisa pelarian yang terjadi pada tahun 1912, tibalah mereka diperairan Kalimantan Barat, lalu terus masuk melewati sungai Kapuas hingga ke Sanggau. Mendapati ada perkampungan yang sejuk, tanahnya subur, dan penduduk yang ramah menyambut. Maka menetaplah mereka dan membangun pekong ditepi sungai kapuas dari kayu-kayu pepohonan disekitaran sungai. Hingga sampai saat ini, Pekong masih kokoh berdiri dan telah berusia lebih dari 100 tahun.


Versi  kedua, saya mendengar cerita dari sesepuh yang akrab disapa Ai Long Pai. Seorang seniman dan pedagang saat masih muda dulu. Punya banyak rekanan kerja dan sahabat warga Tionghoa di sekitaran kota Sanggau. Menurut beliau, berdirinya Pekong Tri Darma adalah dari orang-orang Tionghoa yang bermigrasi dari daerah Bengkayang-Singkawang (kemungkinan wilayah Monterado dan Sanggau Ledo).

Sebab terjadinya migrasi pada waktu itu adalah pecah kongsi soal pertambangan disana, timbulah perang kecil. Sebagian melarikan diri hingga ke tepian sungai Kapuas di kota Sanggau yang pada akhirnya mendirikan Pekong untuk tempat ibadah dan berkumpul.

Konon, dulu keluarga-keluarga mereka yang datang dari Singkawang/Monterado datang hendak menemui kerabatnya, mereka selalu bertanya "dimana orang-orang Sanggau Ledo", maka hingga sampai saat ini apabila ada orang-orang tua dulu hendak pergi ke Pasar (wilayah pekong dan sekitarnya), mereka akan bilang "mau turun ke Sanggau".

Nah, apabila kalian pernah dengar cerita yang berbeda, bisa sharing ya... 😁

Saturday, June 26, 2021

Ojek Online Mobil Sanggau, Kalbar

 


Satu-satunya ojek online mobil didalam kota Sanggau dengan harga yang sangat terjangkau. Mulai dari Rp 15.000,- sampai dengan Rp 20.000,- sekali jemput atau antar dari tempat penginapan/hotel ke tujuan didalam kota Sanggau. Lokasi antar jemput sebagai berikut:

1. Simpang Sompu

2. Sungai Bongkok

3. Tanjung Kapuas

4. Tanjung Sekayam

5. Sungai Sengkuang

6. Kantu, Ilir Kota, Beringin dan Ampera

7. Sanggau Permai

8. Munguk Badang

9. Perintis, Bunut dan Semboja


Untuk informasi dan pemesanan:

Double Online Taxi:

089508226558 (Aabaliya)

Tuesday, February 9, 2021

Dokumen Bantuan Pemda Kesra 2021

 Berikut adalah Surat Keputusan Bupati Sanggau
lengkap dengan informasi detail berkas yang harus dilengkapi
dalam mendaftarkan diri anda untuk mendapatkan
Bantuan Pemerintah Kabupaten Sanggau
melalui Bagian Kesra Sekretariat Daerah Kab. Sanggau
Tahun Anggaran 2021.

Mohon Dibaca dengan teliti dan detail.




Wednesday, April 8, 2020

Sakit Yang Diderita Glen Fredly


Glen Fredly Derita Radang Selaput Otak

Beredar info yang menggemparkan dunia tanah air dalam bidang seni musik. Penyanyi ternama Glen Fredly meninggal dunia sore tadi, Rabu 8 April 2020. Di twitter juga banyak info yang mengatakan Glen telah berpulang, hal tersebut juga sama dengan pesan dari WA sahabatnya, Tompi. "Telah berpulang saudara kami, Glen Fredly malam ini. Mohon dimaafkan semua salahnya. Dia yang selalu hadir menggerakkan kita semua" tulis Tompi. Febrian Nindyo, personel grup band HIVI! juga membenarkan kabar tersebut.

Info lain juga mengatakan bahwa Glen Fredly sempat berada diruang ICU disalah satu RS di Jakarta. Dibeberapa media online juga menyebut bahwa Glen menderita radang selaput otak, mirip penyakit yang juga pernah diderita almarhum Olga Syahputra.

Karya-karyanya selalu diingat sepanjang masa. Selamat jalan bang Glen Fredly.

Sunday, March 29, 2020

Cerita Rakyat Sanggau - Putri Daranante - Part 2

sambungan....

Konon dalam perjalanan mencari Baboi Cingak, mereka menggunakan anjing. Setiap anjing akan dilepas ketika menepi ditepi pantai (tepi sungai) yang dianggap memiliki jejak sang lelaki yang sedang mereka cari. Adapun pantai-pantai yang mereka singgahi diberi nama Bahta, Sedua, Sami, Bonti dan Sedae.

Dengan dipandu dukun (ahli nujum), rombongan Dara Nante berbelok ke arah Sungai Entabai. Benar, ternyata Baboi Cingak yang hendak mereka cari berada di Kampung Tampun Juah. Mereka pun bertanya kepada seorang pria tua yang hendak pergi ke kebun. "Apakah kampun masih jauh dari sini,?" tanya rombongan Dara Nante kepada orang tua tersebut. "Masih jauh," jawab orang tua itu. "Kalau demikian, bolehkah rombongan kami menginap dan bermalam dirumah kakek.?" kata rombongan Dara Nante. "Boleh" jawab kakek singkat. Lalu bermalamlah mereka.

Keesokan harinya, rombongan Dara Nante berangkat mencari kampung, Sesampainya di kampung itu, mereka pun mencari ketua kampung dan menceritakan maksud kedatangan rombongan Dara Nante yang hendak mencari seorang laki-laki pemilik buah mentimun. Pada saat itu, ketua kampung mengumpulkan masyarakatnya, bahwa Dara Nante hendak mengadakan sayembara untuk mencari Ayah dari anak Dara Nante yang masih kecil itu.

Dalam sayembara tersebut. diceritakan kembali bahwa anak Dara Nante nantinya akan membawa tiga buah ruas tebu dan mencari siapa yang akan mengupas tebu tersebut. Jika ada seorang laki-laki yang dimintai tolong untuk mengupasnya, maka dia adalah Ayah dari anak itu. Karena paras cantik Dara Nante, konon banyak rakyat terutama kalangan pemuda yang mengikuti sayembara itu. Tetapi, tidak ada seorang pun yang diminta oleh anak kecil untuk mengupas tebu tersebut.

Ada salah seorang penduduk mengatakan bahwa ada seorang pria tua yang tidak hadir ditempat sayembara, orang tua tersebut diasingkan oleh kaum keluarganya karena ia mengidap penyakit kulit. Pertunjukkan sayembara pun diulang kembali dan pria tua tersebut dihadirkan untuk mengikuti sayembara itu. Maka, dengan serta merta anak kecil Dara Nante menuju pria tua untuk diminta mengupas tebunya. Pada mulanya, berat hati Dara Nante menerima fakta tersebut. Tetapi mengingat janji sejak awal, Dara Nante tetap harus menerima seorang Ayah dari anak yang dikandungnya.

Dengan bertemunya Dara Nante dan Baboi Cingak, selesailah masalah fitnah yang ditanggungnya selama ini. Setelah beberapa hari tinggal di kampung Baboi Cingak, maka Dara Nante membawa pulang Baboi Cingak ke kampung halamannya. Mereka menelusuri Sungai Sekayam ke arah hilir kembali menggunakan bidar dan sempat singgah bermalam di beberapa tempat. Salah satu diantaranya di daerah Mengkiang. Ketika Dara Nante dan suaminya sedang mandi di sungai. Saat Baboi Cingak berendam di sungai, konon ikan "korak" memakan kulit ditubuh Baboi Cingak, seketika penyakit kulit Baboi Cingak sembuh. Tubuh baboi yang tampak tua berubah menjadi kekar, muda dan tampan. Alangkah gembiranya  Baboi Cingak dan Dara Nante menyaksikan kejadian tersebut. Karena cerita ini, konon hingga sekarang jika ada yang mengaku dirinya keturunan Baboi Cingak, maka dilarang memakan ikan "korak/kerak".

Kemudian rombongan Dara Nante dan suaminya melanjutkan perjalanan hingga ke satu tempat yang disebut Kantu' (Sanggau).Di daerah ini, Dara Nante dan Baboi Cingak menemui seorang yang bernama Dak Kudak. Dalam pertemuan itu, Dara Nante hendak mengamanahkan kepemimpinan kepada Dak Kudak untuk memerintah dan mengatur wilayah Sanggau. Tetapi sayang sekali, Dak Kudak tidak mampu melaksanakan amanah dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Terlalu banyak permasalahan menimpa kepemimpinannya yang tidak putus-putusnya. Akhirnya, Dak Kudak menjadi bingung dan tidak sanggup mengatur jalannya pemerintahan. Suasana pemerintahan bertambah kacau, tidak menentu dan rakyat pun tidak teratur. 

Rakyat memperhatikan Dak Kudak tidak ada ketenangan dalam hidupnya. Menerima tamu sebagai adat penyajian pinangan yang kerap kali berlaku pada masa itu, pun tidak dapat dilakukannya. Ketika itu, urusan adat pinang-meminang harus ditangani Dak Kudak, tetapi semua pekerjaan tersebut tidak dapat dilaksanakannya dengan baik.

Karena tidak sanggup dengan permasalahan yang sering terjadi, Dak Kudak memutuskan untuk meninggalkan Sanggau dan melepas amanah yang diberikan oleh Dara Nante. Suatu malam, ia beserta kerabatnya pergi berangkat menuju daerah Semboja. Secara etnografi dan riwayat cerita asalnya, perkataan "Semboja" berasal dari kata "Abu Koja" lari berjalan kaki waktu malam hari. Merujuk data oral dan cerita-cerita rakyat Sanggau, arwah Dak Kudak menjadi orang kebenaran. Konon, kubur Dak kudak diyakini berada di daerah Sengarong dekat kampung Bunut, Sanggau saat ini.

Dikemudian hari, Dara Nante dan Baboi Cingak meneruskan kembali perjalanannya menuju kampung halamannya. Setelah menempuh dalam waktu yang cukup lama, Dara Nante kembali kepangkuan orang tuanya. Konon, setibanya dikampung halamannya di daerah Labai Lawai, Dara Nante disambut meriah oleh rakyatnya.

Suatu waktu, sang Raja (ayah Dara Nante) sangat heran mengapa anak menantunya suka mandi [ada malam hari. Untuk mengetahui ada apa dibalik rahasia itu, maka Raja menyuruh salah seorang pembantu kepercayaannya untuk menyelidiki hal itu. Setelah diselidiki, ternyata tampak jelas sekali bahwa Baboi Cingak adalah seorang pemuda yang tampan, kekar dan gagah perkasa. Bertambah yakin dan gembira hati sang Raja mendengar kesaksian pembantunya itu (sumber: Gusti Arman, Ai Ngah Aem, Abang Sulaiman, dan Ade Hanifah). Wallahu'alam - Tamat.

Cerita ini ditulis kembali dari sebuah buku yang berjudul Sejarah Kesultanan Melayu Sanggau yang ditulis oleh Dr. Abang Izhar Ay, M.Sc. Buku tersebut dicetak pada bulan Oktober 2016.

Cerita Rakyat Sanggau - Putri Daranante - Part 1

Legenda Dara Nante
picture from popbela

Pada zaman dahulu kala, seorang putri datang dari kerajaan Hindu Matan, Bapurang, Ketapang. Nama putri legendaris itu adalah putri Dara Nante, yang saat itu tengah mengandung seorang bayi tanpa suami. Konon, disebabkan memakan sebuah mentimun yang hanyut terbawa air Sungai Sekayam dan Sungai Kapuas.

Suatu hari, Dara Nante bersama para dayang (pembantunya) turun mandi ke sungai. Ketika sedang asik mandi dan bermain di sungai bersama para dayangnya, tiba-tiba terlihat sebuah mentimun yang hanyut terbawa aliran air sungai. Tetapi anehnya mentimun itu berputar-putar di air. Salah seorang dayang berkata "siapa yang dapat mengambil buah mentimun itu, maka akan menjadi miliknya sendiri,". Kemudian mereka mulailah berlomba untuk mendapatkan buah mentimun, tetapi para dayang tidak ada yang berhasil mendapatkan buah mentimun tersebut. Kemudian tiba giliran Dara Nante yang hendak mengambil, timun tersebut mendekatinya tiba-tiba. Dara Nante lah yang berhak memiliki mentimun tersebut dan memakannya.

Beberapa bulan setelah memakan buah mentimun tersebut, Dara Nante tidak datang bulan. Ini artinya Dara Nante menunjukkan ciri-ciri sebagai seorang gadis yang mengandung tanpa seorang laki-laki yang menyentuhnya. Tidak lama kemudian, tersebarlah berita ke seluruh penduduk bahwa Dara Nante mengandung tanpa seorang suami. Timbul pula tuduhan-tuduhan dari masyarakat hingga membuat sang Raja murka mendengarnya. 

Raja terus memikirkan putrinya, siapakan lelaki yang menghamili putrinya itu. Setelah dipelajari oleh sang Raja. Ternyata keanehan terjadi sejak Dara Nante mandi bersama dayang-dayangnya, kemudian memakan buah mentimun yang hanyut. Setelah memakan buah mentimun itulah kemudian ia mengandung. Raja pun mengumpulkan para pembesar dan pembantu-pembantunya untuk mencari jalan keluar.Para pembesar mengusulkan agar mengambil khidmat dukun alias bomoh (ahli nujum) yang handal.

Hasil perenungan ahli nujum mengatakan bahwa Dara Nante mengandung tanpa suami disebabkan terkena sihir sewaktu memakan buah mentimun yang kala itu hanyut di sungai. Para bomoh juga mengatakan bahwa pemilik buah mentimun itu berada ditempat yang jauh di hulu sungai. Sang Raja pun memerintahkan para pembantunya agar mencari orang tersebut. Bekal pun disiapkan para pembantunya karena harus menempuh perjalanan yang sulit dan panjang.Perjalanan itu akan dimulai pada saat bayi dalam kandungan itu dilahirkan Dara Nante telah menjadi anak-anak.

Setelah bayi Dara Nante lahir dan tumbuh menjadi anak-anak, berangkatlah rombongan Dara Nante menggunakan bidar (dedaup) menuju ke arah hulu menelusuri Sungai Kapuas untuk mencari asal buah mentimun itu berada. Orang yang dicari tersebut adalah Baboi Cingak. Merujuk bahasa lokal Dayak Sekayam, perkataan "Baboi" bukan "Babai", secara tradisi etnografi, berarti orang yang sudah tua sekali. Perkataan "Baboi" bisa juga diartikan sebagai "kakek". Sedangkan perkataan "Cingak" artinya sisa-sisa makanan yang sangkut di gigi. Jadi, Baboi Cingak artinya seseorang yang tua sekali. Dalam bahasa Dayak Sekayam, orang tua lelaki yang sudah tua dipanggil dengan perkataan "Baboi, bukan "Babai".

Tibalah rombongan Dara Nante di muara Sungai Sekayam (antara Sentana dan Kantu'), terhalang sebuah pohon Bayam besar melintang dan menghalangi jalur sungai. Mereka kemudian mencoba memotong pohon besar tersebut tetapi tidak berhasil. Meskipun telah dilakukan berulang-ulang, tetap saja gagal. Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan lamanya mereka berusaha memotong tetapi tetap tidak berhasil.

Pada suatu malam, Dara Nante bermimpi mendapatkan petunjuk bagaimana menyelesaikan masalah itu. Di dalam mimpi, Dara Nante melihat pohon tersebut dapat terpotong oleh dirinya sendiri dengan menggunakan pisau perenda (pisau seraut) miliknya. Pada keesokan hari, Dara Nante melaksanakan apa yang dilihat dalam mimpinya semalam. Dengan pisau perenda milik Dara Nante yang juga dibantu beberapa orang pembantunya, pohon besar itupun berhasil dipotong. Alhasil, mereka bisa kembali melanjutkan perjalanan.

bersambung......
klik next