Bahan bacaan lokal baru di Kabupaten Sanggau.
Edisi Perdana Maret 2025. Silahkan download gratis disini
Bahan bacaan lokal baru di Kabupaten Sanggau.
Edisi Perdana Maret 2025. Silahkan download gratis disini
Terdapat dua komunitas sosial masyarakat lokal yang terbesar di kota Sanggau, yaitu Dayak dan Melayu. Kemudian disusul Tionghoa. Awalnya saya hanya ingin mencari informasi berdirinya Pekong Tri Darma di kota Sanggau. Kalau bicara soal asal usul masyarakat Tionghoa di kota Sanggau, ada beberapa versi yang saya dengar langsung dari orang-orang tua yang sudah lama tinggal di wilayah Sanggau.
Versi pertama yang saya dengar ini langsung dari seorang kakek yang punya usaha toko Obat Herbal Makmur, lokasinya berada di depan Mesjid Al Ikhlas, tak jauh dari Pekong Tri Dharma. Waktu saya bertanya soal sejarah berdirinya Pekong di kota Sanggau, beliau langsung masuk ke dalam ruangan, mungkin kamarnya. Mengambil sebuah buku kecil, seperti buku saku dengan tulisan mandarin. Sejenak membuka-buka setiap lembar mencari satu halaman untuk menjawab pertanyaan tadi. "Tahun berapa Pekong dibangun?".
Menurut cerita turun temurun yang beliau dengar, dimulai kisah dari perang saudara yang terjadi di RRC. Ketika itu, banyak rakyat yang ingin keluar dari zona tak nyaman untuk menghindari penderitaan yang panjang dengan kapal-kapal melintasi berbagai pulau dan benua. Kala itu, pemerintahan dijalankan oleh Dinasti Manchu atau Dinasti Qing, yaitu dinasti terakhir yang berkuasa di Tiongkok.
Singkat cerita, sisa-sisa pelarian yang terjadi pada tahun 1912, tibalah mereka diperairan Kalimantan Barat, lalu terus masuk melewati sungai Kapuas hingga ke Sanggau. Mendapati ada perkampungan yang sejuk, tanahnya subur, dan penduduk yang ramah menyambut. Maka menetaplah mereka dan membangun pekong ditepi sungai kapuas dari kayu-kayu pepohonan disekitaran sungai. Hingga sampai saat ini, Pekong masih kokoh berdiri dan telah berusia lebih dari 100 tahun.
Versi kedua, saya mendengar cerita dari sesepuh yang akrab disapa Ai Long Pai. Seorang seniman dan pedagang saat masih muda dulu. Punya banyak rekanan kerja dan sahabat warga Tionghoa di sekitaran kota Sanggau. Menurut beliau, berdirinya Pekong Tri Darma adalah dari orang-orang Tionghoa yang bermigrasi dari daerah Bengkayang-Singkawang (kemungkinan wilayah Monterado dan Sanggau Ledo).
Sebab terjadinya migrasi pada waktu itu adalah pecah kongsi soal pertambangan disana, timbulah perang kecil. Sebagian melarikan diri hingga ke tepian sungai Kapuas di kota Sanggau yang pada akhirnya mendirikan Pekong untuk tempat ibadah dan berkumpul.
Konon, dulu keluarga-keluarga mereka yang datang dari Singkawang/Monterado datang hendak menemui kerabatnya, mereka selalu bertanya "dimana orang-orang Sanggau Ledo", maka hingga sampai saat ini apabila ada orang-orang tua dulu hendak pergi ke Pasar (wilayah pekong dan sekitarnya), mereka akan bilang "mau turun ke Sanggau".
Nah, apabila kalian pernah dengar cerita yang berbeda, bisa sharing ya... 😁
Satu-satunya ojek online mobil didalam kota Sanggau dengan harga yang sangat terjangkau. Mulai dari Rp 15.000,- sampai dengan Rp 20.000,- sekali jemput atau antar dari tempat penginapan/hotel ke tujuan didalam kota Sanggau. Lokasi antar jemput sebagai berikut:
1. Simpang Sompu
2. Sungai Bongkok
3. Tanjung Kapuas
4. Tanjung Sekayam
5. Sungai Sengkuang
6. Kantu, Ilir Kota, Beringin dan Ampera
7. Sanggau Permai
8. Munguk Badang
9. Perintis, Bunut dan Semboja
Untuk informasi dan pemesanan:
Double Online Taxi:
089508226558 (Aabaliya)